Cerpen lagi
Ironisme
“Turunkan harga BBM! Turunkan harga BBM! Bebaskan rakyat dari kemiskinan! Beri pendidikan yang layak! Hapuskan korupsi.....” Pemimpin demo tersebut berteriak dengan lantang, menyuarakan apa yang ia bilang aspirasi rakyat. Pendemo yang terdiri dari mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas di seluruh Indonesia tersebut berada di depan istana negara. Mereka melakukan demo di tengah jalan sehingga menyebabkan kemacetan, aparat keamanan terlihat sibuk berusaha mengendalikan suasana. Tidak jauh dari tempat tersebut seorang mahasiswa mengamati kejadian tersebut dengan seksama.
Nama mahasiswa tersebut adalah Hans, ia tidak ikut berdemo bukan karena ia tidak peduli pada nasib rakyat, justru kebalikannya. Ia berusaha untuk segera menyelesaikan kuliahnya dengan cepat agar ia segera bisa membuat usahanya dan mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia, memberi kesempatan untuk seseorang agar mereka bisa bertahan hidup. Ia tahu kenaikan BBM merupakan hal yang tidak bisa dihindari karena BBM merupakan sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui, sementara permintaannya terus meningkat. Menurutnya pemerintah Indonesia terlalu memaksakan memberikan subsidi untuk BBM, padahal hal tersebut membuat rakyat konsumtif dan jatah subsidi di bidang lain jadi berkurang.
Kalau tidak salah ingat bukankah mahasiswa pendemo tersebut juga meminta untuk memberi pendidikan gratis bagi semua kalangan? Bagaimana bisa dilakukan jika subsidi BBM masih sebesar sekarang? Nosense, mustahil, begitu pikirnya. Hal tersebut juga diperparah korupsi besar-besaran di pemerintahan Indonesia. Ngomong soal korupsi, ia jadi ingat, salah satu temannya yang sedang ikut demo dan sekarang sedang menyampaikan aspirasi tersebut, saat ujian mid term kemarin, ia mencontek. Tidak hanya itu ia juga sering titip absen, alasannya mau melindungi rakyat...sungguh lucu, bukankah itu seperti peribahasa maling teriak maling? Hans menggeleng-gelengkan kepalanya melihat semua ini.
Bukan rahasia lagi kalau dalam kubu pemerintahan KKN sangat sering terjadi, hal tersebut membuat rakyat menjadi tidak percaya bahkan membenci pemerintahnya sendiri. Ia tahu bahwa mahasiswa pendemo tersebut pasti membenci dan tidak percaya pada pemerintah. Tapi lucu juga, melihat mahasiswa tersebut menuntut, meminta, mengemis, pada pemerintah. Bukankah seharusnya seseorang tidak akan pernah meminta pada orang yang mereka tidak percaya? Aneh.....
Hans melihat kemacetan yang disebabkan oleh demo tersebut. Ah....berapa banyak waktu yang terbuang karena kemacetan tersebut? Time is money, ia teringat kalimat tersebut, melihat kondisi ini ia jadi berpikir seandainya waktu dinilai dengan uang kira-kira sudah berapa banyak yang diboroskan mahasiswa pendemo tersebut? Nilai akan waktu tiap orang berbeda, mereka yang terjebak kemacetan ini sekarang pasti sedang kesal, sebal, sedih, marah, dan berbagai perasaan negatif lainnya. Tidak ada yang senang apabila waktu mereka terbuang percuma. Ia pun berjalan menjauh meninggalkan tempat demo tersebut dengan perasaan kecewa.
Saat berjalan ia melihat seorang mahasiswa yang mundur dari keributan tersebut dengan hati-hati dan cepat, seolah-olah takut ketahuan. Ia tidak tahu siapa itu, tapi terbesit dalam hatinya bahwa mahasiswa yang mundur tersebut bukan mahasiswa melainkan provokator yang dimasukkan pihak tertentu. Hans mengeleng-gelengkan kepalanya dan membuang jauh-jauh perasangka tersebut karena tidak ada bukti yang pasti. Siapa tahu mahasiswa tersebut hanya takut terluka? Begitu pikirnya sambil meninggalkan keributan tersebut
Inikah yang disebut kaum intelektual? Jika menjadi kaum intelektual adalah menjadi seperti mereka ia tidak keberantan melepas statusnya sebagai mahasiswa. Ia sebetulnya bangga dengan mahasiswa yang berjuang melakukan perubahan seperti So Hoek Gie, Taufik Ismail, merepa merupakan contoh dari mahasiswa yang melakukan perubahan secara nyata, tidak hanya sekedar bicara. Sambil berpikir begitu ia melanjutkan perjalanannya.
Sudah cukup lama ia berjalan dan sejauh itu pula ia melihat kemacetan yang disebabkan demo tersebut. Ia melihat jauh ke depan tapi kemaetan masih terlihat. Saat melihat ke depan itulah ia melihat ambulan yang terjebak di tengah kemacetan. Ambulan tersebut membunyikan sirenenya, yang berarti ambulan tersebut dalam keadaan darurat, tapi dengan kemacetan ini supir ambulan tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berharap kemacetan ini segera berakhir. Nyawa manusia sedang terancam, dan penyebabnya adalah mereka yang hendak melindungi kehidupan rakyat, ironis....begitu pikirnya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa melihat dengan pasrah. Ia pun melanjutkan perjalanannya. Sementara itu di tempat demo mulai terjadi bentrok antara aparat keamanan dengan pendemo.
Keributan tersebut baru ia ketahui saat menonton berita di TV malam harinya. Akibat bentrok tersebut puluhan orang dari kedua pihak terluka parah, dan dikonfirmasikan ada pihak aparat keamanan yang meninggal karena dipukul dengan benda tumpul oleh mahasiswa. Mahasiswa yang jadi tersangka tersebut sekarang tidak diketahui keberadaannya. Mahasiswa yang jadi tersangka adalah temannya yang berada di fakultas yang sama. Ia kenal dengan orang tersebut, seorang anggota BEM yang berapi-api dan selalu bilang akan menegakkan kebenaran apapun yang terjadi, dan sekarang ia jadi buronan. Hans menghela nafas, ia mematikan TV karena muak dengan berita tersebut. Ia merebahkan kepalnya di tempat tidur dan berbisik dengan pelan ”menyedihkan....” Ia menutup matanya dan kesadarannya pun menghilang ditelan keletihan.



05.25
blog ilham
,



0 Response to "Cerpen lagi"
Posting Komentar