cerpen
Aku
Aku capek, ada batas seorang aku dalam dicoba. Oh ternyata pembaca sudah ada baiklah berarti aku harus siap-siap untuk peranku.....eh? hari ini bebas? Boleh melakukan apa saja? waduh aku jadi bingung, bukankah biasanya pengarang mengisi aku menjadi sesuatu? Cerita apa saja? Anda Yakin? Serius? Ok kalau begitu kita mulai di paragraf selanjutnya
Aku adalah aku, tapi tergantung tempat aku beredar mungkin bisa jadi saya, me, i, watashi, boku, ike, dan berbagai variasi aku lainnya. Aku kosong sehingga perlu diisi oleh keberadaan yang bernama pengarang. Aku baru terealisasi hanya sesudah dipresentasikan oleh pengarang dengan menggunakan media, entah itu media cetak, internet, film, atau apapun itu. Jika belum direalisasikan maka aku akan terperangkap dalam kepala pengarang, dibongkar pasang hingga sesuai keinginan. Ada kalanya aku hilang secara total dan menjadi satu dengan pengarang. Aku bisa fiksi dan non fiksi, tergantung.
Kalau boleh jujur, menjadi aku yang fiksi itu paling melelahkan. Di suatu kesempatan aku jadi pria, wanita, banci. Kalau manusia mungkin masih mending karena merupakan zona yang bisa dipahami pengarang, tapi kalau udah ke yang lain......Pernah aku jadi alien, kecoa, burung, anjing, kucing, pohon, tanah, buaya, kurcaci, dan segala hal lainnya. Kalau sudah begitu saya merasa mengkhianati mereka karena pengarang dengan seenak jidatnya mendeskripsikan mereka sesuai yang diketahui tanpa memikirkan perasaan mereka. Rasanya jadi beban batin untuk aku.
Peran yang aku suka secara spesifik tidak ada tapi menjadi pahlawan, terutama pahlawan yang menyelamatkan dunia dengan pengorbanan tampaknya yang paling banyak disukai pembaca. Namanya juga tragedi serta penderitaan adalah topik yang paling banyak disukai tampaknya. Yang paling tidak aku sukai adalah menjadi narator yang tidak bisa dipercaya, akibatnya aku harus membohongi pembaca dari awal hingga akhir, biasanya kalau sudah begitu ada saja pembaca yang mengutuk aku dan pengarang. Kalau jadi antagonis....Kadang suka kadang nggak, tergantung bagaimana tokohnya. Ada antagonis yang membuatku muak saat memerankannya, ada juga yang menyenangkan lagipula jadi antagonis itu tidak terlalu buruk selalu saja ada pembaca yang menyukainya. Kadang aku juga terperangkap dalam tokoh dilematis sehingga dari awal hingga akhir bukan hanya pembaca yang bingung, aku juga bingung (walaupun memang itu tugasku). Ah tapi biarpun aku ngomong gini aku sebetulnya punya pandangan yang berbeda terhadap tokoh yang diperankan, apa yang aku sukai mungkin kelak jadi benci dan apa yang aku benci menjadi kusukai, tergantung zaman. Saat ini aku diberi kesempatan untuk mengingat peran-peranku, karena sebetulnya setiap akhir dari cerita aku akan melupakan semuanya dan baru ingat jika aku dibaca lagi.
Aku yang sekarang ini juga tampaknya terjebak dalam suatu paradox yang tidak menyenangkan. Aku berbicara tentang diriku seolah aku ada pribadi, tapi sebetulnya aku dimainkan oleh pengarang yang kurang ajar ini. Dia bilang aku bebas, tapi kenyataannya aku masih dimainkan oleh dia, huruf perhuruf. Bahkan aku yang meragukan diapun mungkin arahannya. Ini namanya kebohongan publik tahu, menceritakan aku yang kosong seolah-olah aku punya pribadi. Yang lebih parah Dia juga membuat aku sendiri yang mengatakan itu. Apa boleh buat tuntutan peran sih. Ternyata hingga akhir, kebebasanku hanya sebebas imajinasinya tidak lebih dan tidak kurang Nah sebetulnya masih banyak yang ingin kubicarakan tapi waktuku sudah habis, tampaknya aku sudah tidak bisa diisi lagi oleh dia yah apa boleh buat. Jangan khawatir aku selalu ada di manapun bahkan di diri anda pembaca sekalian. Tidak usah takut kehilangan aku. Saatnya menutup tirai ini.
Bagaimana pembaca? Apakah anda puas dengan uneg-uneg ”aku” yang kuciptakan? Seperti yang aku perintahkan pada ”aku” untuk mengakui segala perbuatanku. Sampai akhir tidak ada cara untuk memberinya pribadi yang bebas dari campur tangan pengarang. ”aku” seperti air yang berubah sesuai wadahnya, sifatnya abstrak dan fleksibel. Tidak ada cara untuk membuatnya menjadi individu yang bebas. Mari kita puji ”aku” yang terperangkap dalam takdir ini akibat kebebasan individu berpribadi sehingga kita bisa puas membongkar pasangnya sesuka kita. ”aku” masih tetap memainkan perannya dengan baik hingga saat ini di seluruh dunia ini, berada di saat yang bersamaan di pikiran tiap-tiap pribadi di alam semesta ini.



20.36
blog ilham
,



0 Response to "cerpen"
Posting Komentar