cerpen
Bocah dan Pistol
Saat sang anak terbangun dari tidurnya yang tidak bermimpi, dia menemukan sepucuk pistol disamping bantalnya. Berpikir bahwa pistol tersebut adalah hadiah yang dijanjikan ayahnya 3 hari lalu, dia mengambil pistol tersebut dan mengacungkannya ke arah langit-langit. Saat itulah sang ibu masuk hendak membangunkan putra satu-satunya yang paling ia sayangi.Melihat putranya sudah bangun dan terlihat senang memainkan pistolnya, sang ibu tersenyum. Sang ibu berpikir bahwa pistol yang dipegang sang anak pastilah hadiah dari suaminya. Dengan lembut sang ibu menyuruh sang anak untuk menaruh pistolnya dan makan pagi terlebih dahulu. Sang anak membidikkan pistolnya ke arah ibunya, mengajaknya bermain. Sang ibu mengangkat tangannya, berpura-pura ketakutan.
“ampun, jangan tembak saya” kata sang ibu sambil tertawa kecil
Sang anak tertawa dan menarik pelatuk pistol
DOR!
Suara letusan pistol membahana di ruangan yang kecil. Sang ibu terjatuh ke lantai dan diam tergeletak begitu saja. Si anak mendekati ibunya. Dia memanggilnya berkali-kali tapi ibunya tidak menjawab, hanya diam membisu. Lantai tempat ibunya terjatuh berwarna merah karena darah yang mengalir dari luka sang ibu. Ibunya sudah tidak di dunia ini tapi si anak tidak sadar, dia tidak tahu konsep dan arti dari kematian, jadi dia hanya melihat ibunya dan terus memanggilnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh ibunya yang sudah kaku. Tidak mendapat respon, dia berpikir “mungkin ibu tidur karena kecapekan…” Sang anak berjalan balik ke ranjangnya dan mengambil selimut, kemudian menyelimuti ibunya yang sudah tiada. Sang anak kemudian ke meja makan dan memakan roti coklat yang sudah disiapkan ibunya. Dia memakannya dengan lahap dan senang. Setelah selesai makan, dia kembali ke kamar dan mendapati ibunya masih tertidur. “kasihan, ibu pasti capek sekali…” begitu pikir sang anak.
TENG TONG TENG
Terdengar suara bel, dia melihat keluar melalui jendela rumahnya, dan melihat teman-temannya datang berkunjung, hendak mengajaknya bermain bersama. Sang anak senang melihat teman-temannya. Dia merasa tidak sabar ingin menunjukkan pistol yang dia miliki. Setelah mengganti bajunya, dia pamit kepada ibunya yang dia sangka masih tertidur. Kemudian dia keluar dari rumah membawa pistol kebanggaannya untuk bermain bersama temannya.
Begitu keluar dari rumah dia langsung disambut teman-temannya, dan merekapun berangkat ke taman tempat mereka biasa bermain. Begitu tiba di taman sang anak dengan bangga memamerkan pistolnya. Teman-temannya merasa kagum melihat pistol tersebut dan langsung meminta si anak untuk meminjamkannya. Si anak tidak mengijinkannya, bagaimanapun pistol ini baru saja dia dapatkan, dan dia sangat menyukainya sehingga enggan bagi dirinya untuk meminjamkan pistolnya yang sekarang menjadi benda berharganya. Teman-temannya cemberut tapi tidak mengambil pusing. Salah satu temannya kemudian mengajak mereka semua untuk bermain perang-perangan. Semuanya setuju, anak-anak lain menyiapkan pistol-pistolan dari bambu dengan peluru karet, tidak ada kawan dalam permainan ini, yang ada hanya lawan. Begitu aba-aba mulai diteriakkan si anak langsung menembakkan pistolnya ke arah lawan, dan anak yang ditembaknya jatuh tewas darah keluar dari luka tembakan, tapi anak-anak lain yang terlalu asyik dengan permainan tidak sadar bahwa pistol yang ditembakkan si anak asli. Si anak terus menembakkan pistolnya ke musuhnya dan dalam sekejap anak-anak lain yang tertembak tewas. Setelah semua lawan ditembaknya dia berhenti. Taman yang rumputnya berwarna kehijauan sekarang menjadi merah dikarenakan darah dari teman-temannya yang tewas. Sunyi senyap, sang anak berteriak gembira karena dia berhasil menang. Dia menunggu teman-temannya bangun dan memberinya selamat karena menang, tapi itu penantian yang percuma, karena teman-temannya sudah tidak akan bangun lagi. Bosan menunggu teman-temannya bangun dia pergi meninggalkan taman, meninggalkan mayat teman-temannya yang telah dia bunuh tanpa sadar. Karena bosan dia balik ke rumah. Dia dapati ibunya masih tertidur di lantai yang berwarna merah karena darah. Si anak hanya geleng-geleng kepala dan berpikir bahwa ibunya malas sekali. Kemudian si anak menyetel TV. Saat itu TV sedang menyiarkan film dari luar negeri. Dalam film tersebut si tokoh utama memegang pistol yang mirip dengan yang dimiliki si anak. Si tokoh utama dalam film membidik kepalanya sendiri dengan pistol yang dimilikinya. Si anak yang tertarikmemutuskan untuk mengikutinya dan membidik kepalanya sendiri dengan pistol ang dimilikinya. Si tokoh utama menarik pelatuk, dan sang anak mengikutinya…
DOR!



20.56
blog ilham
,



0 Response to "cerpen"
Posting Komentar